Temen-temen, mbak-mbak, mas-mas, adek-adek semua… seperti yang aku bilang di “about me”, slah satu hobyku itu baca buku ^^ niii buku-buku yang aku sukaaaaa banget, yang jalan critanya menarik & nggak mbosenin, crita yang mbuat aku hanyut pas mbaca…. yaah walaupun ada buku yang rada jadul mungkin, tapi aku tetep suka… Ini sekalian jalan critanya jugha, tapi gak semua takbocorin yaaah,,,
Selamat membaca yaaa semua…
1. SICKENED

Kisah Nyata Tentang Seorang Anak Yang Sengaja Dibuat Sakit
Karya : Julie Gregory
…Ia memisahkan kedua
lututnya dan menggoreskan pisau di tubuhku. Aku melolong. Aku mengigit lenganku, mengigiti lubang-lubang bekas infus dan lebam-lebam di pembuluh darahku, bekas-bekas plesteran yang lengket dan hitam, dan bola kapas ber-Band Aid yang ternoda darah…
Penyiksaan anak, meskipun sukar dipahami dan sulit dipercaya, diam-diam banyak terjadi di sekitar kita. Salah satu bentuk penyiksaan anak yang hampir tak terdeteksi dan betul-betul kejam adalah seperti yang dituturkan oleh Julie Gregory, seorang korban Munchausen by proxy, dalam memoarnya ini.
Munchausen by proxy adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana si pelaku – biasanya ibu si korban – dengan segala cara membuat korbannya sakit untuk memperoleh simpati dan perhatian orang lain. Ia membawa si anak dari dokter ke dokter, membuatnya menjalani berbagai tes, berpindah-pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, dan menjalani operasi, sementara anak itu sebetulnya sama sekali tidak sakit!
Bagaimana mungkin Julie bisa melawan kehendak ibunya sendiri, sosok yang menjadi panutan, yang mempunyai semua jawaban dari ketidaktahuannya, yang sangat dipercayainya? Bagaimana mungkin para dokter dan profesional lainnya bisa mengetahui bahwa Julie berbohong, karena tak dapat disangkal bahwa apa yang dikatakan oleh orangtua biasaya merupakan petunjuk yang paling baik mengenai apa yang terjadi dengan si anak?
Buku ini mengajak kita mengintip dunia Julie yang penuh kengerian dan nyaris tak bisa dipercaya. Buku ini menuturkan perjuangan Julie, ketakutannya, ketakberdayaannya, kehancurannya, proses penemuan dirinya, dan kekuatannya untuk melepaskan diri dari kegilaan ibunya dan menggapai kebahagian di atas puing-puing masa lalu yang mencekam.
2. A THOUSAND SPLENDID SUNS
Judul Buku: A Thousand Splendid Suns
Pengarang: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M Nugrahani
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, November 2007
Ukuran: 13 x 20,5 cm, 510 halaman
Afganistan adalah sebuah negara yang berada di Asia Tengah. Berbatasan dengan Iran di sebelah barat, Pakistan di sebelah timur, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan di sebelah utara, serta Tiongkok yang terletak di ujung bagian timur. Berbatasan dengan Kashmir, yang merupakan wilayah yang dipersengketakan oleh India dan Pakistan.
Afganistan merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Peperangan dan konflik politik kerap mewarnai negri ini. Afganistan sendiri sangat bergantung pada pertanian dan peternakan. Ekonominya melemah akibat kerusuhan politik dan militer. Sebagian penduduk mengalami krisis pangan, sandang, papan, dan minimnya perawatan kesehatan.
Kondisi inilah yang mungkin menginspirasi Khaleed Hosseini untuk membangun sebuah cerita drama yang berbalut perang, kemiskinan, dan penindasan di Afganistan dengan judul A Thousands Splendid Suns yang merupakan novel keduanya setelah The Kite Runner yang menyabet sukses di seluruh dunia.
A Thousands Splendid Suns, sebuah judul yang berasal dari puisi yang ditulis oleh Saeb-e-Tabrizi, seorang pujangga Persia yang berasal dari abad ke tujuh belas.
”Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atap, ataupun seribu mentari suga yang bersembunyi di balik dinding”
Afganistan tahun 1964 sampai dengan 2003, merupakan latar belakang novel ini. Tokoh utamanya adalah Mariam, seorang harami (anak haram) yang tidak akan pernah mendapatkan hak seperti yang didapatkan oleh orang lain.
Pada bagian pertama novel ini, Hosseini mengisahkan tentang Mariam dan Nana ibunya yang disingkirkan di sebuah desa terpencil Adalah Jalil, majikan yang menghamili Nana. Merupakan seorang yang terpadang dan kaya di Herat. Bagi Jalil dan ketiga istrinya terdahulu, Nana dan Mariam adalah gulma, rumput liar yang harus dicabut dan dibuang.
Meskipun Jalil “membuang” keduanya dan tidak mengakui Mariam sebagai anaknya, namun Jalil mengunjungi Mariam rutin setiap Kamis, untuk bercerita tentang banyak hal, salah satunya tentang kota kelahiran Maryam ; Herat pada tahun 1959, yang pernah menjadi jantung kebudayaan Persia, kampung halaman para penulis, pelukis dan penari. Jalil juga tak pernah memanggil Mariam dengan sebutan harami. Inilah yang membuat Mariam mencintai Jalil.
Begitu bangganya Mariam akan Jalil yang berpengetahuan luas ini. Mengelukannya dalam hati, meski ia juga mendengarkan dengan patuh ucapan-ucapan Nana dan cerita buruk tentang Jalil. Maryam ingin sekali bisa menonton film Pinokio di bioskop milik ayahnya, saat ulang tahunnya ke 15. Jalil ingkar janji, Ia tak datang menjemput Mariam. Mariam bersikeras untuk tetap datang ke Herat, meski Nana tidak membolehkannya. Kenekatan Mariam berbuah pahit, Nana tewas gantung diri.
Tewasnya Nana, memaksa Jalil mengasuh Mariam. Namun tak ada kebahagiaan di Herat untuk Mariam. Ia malah dijodohkan dengan laki-laki tua, duda, pengusaha sepatu di kabul. Pernikahan Mariam dengan rasheed adalah dalam rangka menyingkirkan aib, taktik ini dimobilisir oleh ketiga istri Jalil. Sejak itu, Mariam membenci Jalil.
Di awal pernikahan Mariam-Rasheed, tak ada permasalahan yang berarti kecuali sikap Rasheed yang over protective. Ini karena Rasheed pernah kehilangan anak lelakinya yang meninggal di danau. Mariam yang mengalami keguguran berkali-kali membuat Rasheed berang. Sikapnya berubah, kesalahan kecil yang dibuar Mariam membuar Rasheed naik pitam, lantas memperlakukan Mariam dengan kasar ; memukul, menampar, dan menendangnya.
Pada bagian kedua novel ini, Hosseini mengetengahkan sosok Laila, seorang gadis belia yang tiba-tiba menjadi yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dunia akibat perang anrtarfaksi berkecamuk. Sejumlah temannyapun tewas, dan keluarga Tariq-sahabat kecilnya memilih menungsi, menghindari hal buruk yang timbul karena perang. Laila yang sebatangkara ini diselamatkan oleh Rasheed. Alih alih menyelamatkan jiwa Laila dan menyembuhkan lukanya, Rasheed malah mempersunting gadis ini. Dengan alasan menyembunyikan kehamilannya, buah cintanya dengan Tariq, Laila bersedia menjadi istri Rasheed.
Awalnya Mariam marah karena Rasheed betul-betul merendahkan Mariam dengan mengharuskannya memenuhi segala kebutuhan Laila. Laila melahirkan anak perempuan, diberi nama Aziza. Rasheed tak menyukainya. Lambat laun kebencian Mariam memudar, berganti dengan rasa sayang dan empati, karena Laila mendapat perlakuan kasar dari Rasheed. Persahabatan Mariam-Laila melahirkan rencana untuk melarikan diri dan membebaskan dari belenggu kekejaman Rasheed. Sayangnya upaya mereka gagal.
Mariam dan Laila acap mendapat penyiksaan. Penderitaanpun berlipat ketika suasana di luar sangat tidak menguntungkan bagi wanita. Tingkat pendidikan yang rendah, sangat mendeskriditkan perempuan.Perempuan menjadi sangat tergantung pada kekuasaan laki-laki, karena di masa pendudukan Taliban, perempuan dilarang bekerja dan keluar rumah kecuali dengan lelaki yang menjadi muhrimnya.
Lahirnya Zalmai, anak laki-laki idaman Rasheed tidak juga membuat perangainya berubah. Kemiskinan Rasheed akibat terbakarnya tokonya membuat Rasheed semakin membuatnya kalap. Aziza dititipkan di panti asuhan. Ini yang mampu membuat perasaan pembaca tertampar, seorang anak dipisahkan dengan ibu dalam kondisi ekonomi yang carut marut.
Mariam tewas di tangan Taliban yang memberlakukan hukum mati karena telah melakukan pembunuhan terhadap Rasheed, Tariq yang semula dikabarkan tewas, pada akhirnya menikah dengan Laila dan membawa serta kedua anaknya Aziza dan Zalmai untuk tinggal di pengungsian wilayah Pakistan.
Hosseini menyajikan kedetailan tahun-tahun pertikaian pada saat itu. Pembaca juga diajak untuk lebih mengenal Najibullah, Mujahidin, dan Taliban. Tak hanya itu, pembaca dihadapkan pada gambaran penderitaan rakyat Afganistan.
Alur cerita yang lambat tak lantas membuat novel ini membosankan, bahkan pembaca dibuat tak berkutik membaca halaan demi halamannya. Novel ini diterjemahkan dengan sangat apik dan indah, sehingga pembaca tidak mengalami kesulitan dalam menikmatinya.
Seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding, kini menampakkan cahayanya. (Lupy-650)
3. THE KITE RUNNER
Yang menarik penglihatanku tentang buku itu bukan gambar cover-nya atau judulnya. Tetapi nama pengarangnya. Yang timur tengah banget menurutku. Khaled Hosseini.
Maka dengan penasaran aku mulai baca. Apa bagusnya sampai dikatakan sebagai New York Times Bestseller. Kemudian aku membaca kata pengantarnya. Yang sampai hari ini aku cukup mengingatnya. Khaled mengakui kalau naskah tersebut dia tulis untuk dirinya sendiri. Mungkin jika selesai menulisnya dia hanya akan menunjukkan pada istrinya Soraya. Setelah itu mungkin hanya akan mendarat di pinggir pojok garasinya sebagai suatu karya tulis yang hanya setempo saja dan tak akan banyak orang yang tahu atau membacanya.
Tentu sudah banyak pengamat pembaca buku yang telah menulis tentang buku ini. Aku bukan mau ikut-ikutan, tetapi waktu aku membaca kata pengantarnya, aku merasa bahwa buku itu ditulis dari pengalaman sang penulis yang sebenarnya. Ada rasa ketulusan keiklhasan dalam menceritakan pengalaman hidupnya. Melalui ingatan (memory) kehidupannya yang dialaminya selama di Afghanistan sebelum penjajahan Uni Soviet.
Khaled sebelumnya hendak menulis tentang Taliban, tetapi dia merasa bahwa banyak penulis yang telah menulis tentang Taliban yang lebih berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang jauh lebih banyak dari dia. Maka dia hanya memulai menulis ‘Afghanistan’ dari pengalamannya. Yang cukup mengalir. Enak untuk dinikmati.
Khaled juga memberikan suatu wawasan yang ‘baru’ kepada pembaca tentang Afghanistan yang selama ini hanya dianggap sebagai tanah air Taliban penyebab teror. Meski dia kini tinggal dan hidup di negara paman Sam, yang dijumpainya sangat berbeda antara Los Angeles dan Kabul.
Afganistan sebelum penjajahan Uni Soviet mungkin masih lebih baik daripada pendudukan Taliban saat ini, menurut Kahled. Melalui The Kite Runner, Khaled juga ingin pembaca mengerti bahwa Afghanistan yang ’sebenarnya’ adalah negara yang cinta damai dan indah. Kenangannya tentang Afghanistan bagaikan layang-layang yang terhembus mengikuti arah angin. Bagai Amir yang telah mengkhianati Hassan, sahabat baiknya semasa kecil. Yang telah meninggalkan Hassan begitu saja ketika Hassan diperkosa.
Rasa bersalah pun mengiringi Amir. Menipu diri, menjadi pengecut, tak mengingat masa lalunya adalah satu-satunya pilihan. Seperti layang-layang putus, sebagian dari dirinya terbang bersama angin. Masa lalu yang terkubur senantiasa menyeruak kembali. Hadir membawa luka-luka lama. Dan seperti layang-layang, tak kuasa menahan badai, demikian Amir harus menghadapi kenyataan yang mewujud kembali.
Buku yang indah seperti apa adanya ditulis Khaled Hosseini dengan baik, sehingga tidak heran telah dibaca oleh pembaca dalam 42 bahasa. Keindahan buku ini bukan saja terasa ketika dibaca, bahkan hingga buku ini selesai dibaca, keindahan itu rasanya masih tertinggal di hati.
The Kite Runner buku Khaled Hosseini yang pertama dan menjadi sukses besar. Dan buku pertama yang ditulis oleh orang Afghanistan dalam bahasa Inggris. Tahun 2007 Dreamworks telah memproduksi The Kite Runner menjadi sebuah film. Dari banyak pengkritik film, ada satu yang menarik.
Film yang ditonton tidaklah seperti yang diimajinasikan oleh pembaca. Memang tidaklah mudah, adaptasi dari sebuah buku ke layar perak. Pengkritik film lainnya juga mengatakan bahwa bagi penonton film disarankan untuk membaca novelnya terlebih dahulu untuk lebih mengerti film yang ditonton.
Khaled juga seorang penulis yang berani menceritakan tentang Afghanistan dari sisi lain, yang tentu akan tidak menyenangkan bagi otoritas di Afghanistan pada saat ini. dikabarkan pemutaran film yang seharusnya sekitar bulan Oktober ditunda menjadi pada bulan Desember 2007, dikarenakan kekuatiran akan adanya unjuk rasa yang dapat terjadi di Afghanistan (meski rencana distributor tidak akan memutar film tersebut di Afghanistan, tetapi dikuatirkan DVD bajakan akan bermunculan disana) dan akan membahayakan keselamatan para pemain filmnya (konon beberapa pemain film pemeran ‘Amir – Hassan waktu kecil’ berasal dari Kabul Afghanistan).
Kalau anda sudah membaca buku ini, tokoh Amir merupakan gambaran dari kita semua, dimana keegoisan kita hanya untuk diri kita sendiri, bahkan dengan teman baik kita atau saudara kita sampai ortu kita, mungkin kita akan bertindak seperti Amir, melarikan diri pada waktu sahabat/ saudara/ keluarga kita dalam bahaya. Waktu senang bahagia, mari kita bergembira bersama, tetapi waktu susah menderita, “sorry bok, itu urusan elo, gw ngga ikut-ikut.”
Demikianlah sifat manusia yang berdosa. Dengan Anugerah Allah SWT yang besar (Amazing Grace – yang sering kita tak mengerti) sifat yang sangat mementingkan diri sendiri dapat diubah menjadi 180 derajat. Manusia yang super egois itu dapat menolong orang dalam kesusahan, bahkan sampai mengorbankan dirinya sendiri (Lupy-650)


Juni 4, 2008 at 12:25 pm
Yaah,, seperti yang aku duga pik, kebiasaanmu itu gak bakal ilang,,,, dasar Si Kutu Buku!!