Waktu? Sebuah kata yang belum Aku temukan jawabannya. Di atas bukit pernah Aku tanyakan tetapi hanya angin yang membisikkan derita. Di tepi lautan pernah ku lontarkan pula kata “waktu” meskipun deru ombak mampu membasahi peluhku. Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu? Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur. Aku tidak tahu. Aku adalah anak manusia yang masih belum menyadari seutuhnya betapa berartinya makna “waktu”, namun aku mengerti bahwa waktu sangat berharga.
Sebenernya “waktu” tuh apa sih?? Selama ini orang menganggap “waktu” sebagai sesuatu yang terpisah dari diri kita sendiri. Kata-kata seperti “Aku kehabisan “waktu” seringkali kita dengar. Pemahaman “waktu” di balik kata-kata itu mengisyaratkan sesosok makhluk yang suatu saat menakutkan, tetapi di kesempatan lain menggembirakan. Yaa gak??
Kemarin sore, pas ada takjilan di masjid. Seperti biasanya, aku ikut Bantu-bantu di masjid. Saat takjilan itulah aku bertemu dengan teman SDku namanya Yonanda. Aku menyapanya dan dia balas menyapaku, dia menghampiriku kemudian duduk di sebelahku. Kami cukup lama bercakap-cakap tentang keseharian kami sekarang, namun pembicaraan tiba-tiba beralih ketika Yonanda melihat pergelangan tanganku. Kemudian dia berkata, “ Ya ampuun Piik, kebiasaanmu gak berubah yaa!! Suka banget sih pake jam tangan? Dari SD kok nggak berubah. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Buat temen2 yang mungkin emang pengen nanyain ini tapi gak sempet “kenapa aku suka bawa jam tangan ke mana-mana?” atau buat Yonanda yang kebetulan secara gak sengaja nemu blogku “yang nggak banget” ini. Sebenernya itu emang udah jadi kebiasaanku dari kecil. Aku suka banget pake jam tangan. Aneh memang,,, tapi itu karena suatu kejadian. Dulu pas aku masih tinggal di Palembang (saat masih kelas 0 besar), ayah pernah janji sama aku kalo aku dapet nilai bagus di rapot, ayah akan ngasih hadiah. Ketika rapotku dibagi, aku senang sekali karena nilaiku memang baik, akhirnya ayah membelikanku jam tangan (itu jam tangan pertama yang aku miliki). Saat itu ayah berpesan “Jam ini melatih kamu disiplin”. Waktu itu aku seneng banget nerima hadiah dari ayah. Aku selalu memakainya kemanapun aku pergi, dan dimanapun aku berada jam itu selalu berguna buatku. Sampai suatu saat, aku pulang ke Jogja dengan orangtuaku & gak bakal balik lagi ke Palembang, saat itu aku lupa memakai jam tangan pemberian ayahku itu, dan setibanya di Jogja aku baru ingat kalau aku tidak membawa jam tangan. Aku menangis saat itu (udah terlanjur suka banget sama jamnya..). Sejak saat itu (kapok), bahkan sampai sekarang, setiap aku mau pergi keluar rumah, barang yang selalu pertama kali kucari adalah Jam tangan… hhehehehe
Bagaimana kalian sendiri menghayati “waktu”? Pernahkah kalian beranggapan bahwa “waktu” tak lain adalah pilihan hidup kita sendiri, bahkan hidup kita sendiri sebagai manusia? Waktu adalah kesempatan yang nggak akan datang dua kali. Aku jadi inget, aku pernah nglakuin kesalahan bego’ banget !! aku melakukan tindakan yang seharusnya klo dikerjain besok” kmungkinan besar akan lebih baik hasilnya,, tapi aku malah melakukannya pada hari sebelumnya,, maksain pula.. sering sih nglakukan hal kayak gini,, melakukan hal yang seharusnya bisa jadi bener klo dilakukan di waktu yang bener.. Aku menyesal, bahkan sempat berfikir…“seandainya bisa kembali ke masa lalu..”
Tapi sejenak kemudian aku tersenyum, dan justru bersyukur karena waktu kemarin takbisa kembali. Aku kembali berfikir.. “seandainya masa lalu bisa kembali. mungkin aku gak bakal tau apa arti kata menyesal, mungkin aku gak akan bisa belajar dari kesalahan, mungkin aku gak akan mau kerja keras untuk membentuk masa depan, mungkin aku akan menjadi orang yang gak bisa menghargai waktu dan kehidupan.”
Hidup jadi tidak bermakna…
Ada yang sependapat??
-650-
